Tri Hita Karana: Konsep Keseimbangan dan Kesejahteraan Hidup
Pengertian dan Etimologi Secara etimologi, Tri Hita Karana berasal dari bahasa Sansekerta yang terdiri dari tiga kata:
Tri: Tiga
Hita: Kebahagiaan, kedamaian, kedamaian batin, atau kesejahteraan
Karana: Penyebab, sumber, atau alasan
Maka secara harfiah, Tri Hita Karana berarti Tiga Penyebab Kebahagiaan dan Kesejahteraan.
Asal-usul dan Latar Belakang Meskipun nilai-nilainya telah menjadi bagian dari way of life masyarakat Bali sejak ratusan tahun lalu, istilah Tri Hita Karana secara formal dicetuskan pada tanggal 11 November 1966 dalam Konferensi Daerah Musyawarah Pembangunan Pura Agung Besakih. Falsafah ini lahir dari kesadaran mendalam bahwa pembangunan fisik-material semata tanpa diimbangi oleh pembangunan mental-spiritual dan kelestarian alam hanya akan membawa kemerosotan moral dan kerusakan lingkungan.
Inti Falsafah Falsafah ini mengajarkan bahwa kebahagiaan hakiki (Ananda) tidak bisa diraih secara parsial. Kebahagiaan tidak hanya datang dari kecukupan materi atau keharmonisan sesama manusia, melainkan dari keberhasilan menjaga keseimbangan segitiga kehidupan: Tuhan, Manusia, dan Alam. Ketiganya merupakan satu kesatuan kosmis yang tidak boleh ada yang terabaikan.



